• Senin, 30 November 2020 | 00:16
MoeslimChoiceTV

Pelaksana Harian (Plh) Ketua Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), Saleh Partaonan Daulay mengecam pernyataan Presiden Prancis, Emmanuel Macron yang mengatakan bahwa dirinya tidak akan mencegah penerbitan kartun yang menghina Nabi Muhammad SAW dengan dalih kebebasan berekspresi. Macron pun menyebut Islam sebagai agama yang mengalami krisis di seluruh dunia dan menuduh komunitas muslim di negaranya sebagai separatis.

"Sebagai bangsa yang mencintai perdamaian dan menghormati keyakinan dan ajaran agama seluruh bangsa-bangsa yang ada di dunia, kita mengecam keras pernyataan Presiden Prancis yang tidak begitu mempedulikan perasaan umat Islam yang saat ini tersakiti akibat penyebaran kartun Nabi Muhammad SAW. Dan secara kelembagaan mereka tidak mau untuk mencabut kartun tersebut dari peredaran," kata Saleh saat dihubungi wartawan di Jakarta, (29/10/2020).

Mantan Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah ini memgajak umat Islam untuk betul-betul meningkatkan solidaritas. Sebab, ada semacam penggiringan opini yang sengaja dilakukan oleh Macron seolah Islam itu radikalis dan sangat berorientasi pada kekerasan.

"Dalam konteks ini, seluruh elemen umat Islam Indonesia diharapkan betul-betul bersatu-padu untuk memberikan pelajaran kepada Prancis. Salah satu hal yang bisa dilakukan adalah memboikot seluruh produk-produk yang datang dari Prancis," imbuhnya

Menurut Anggota Komisi IX DPR ini, di Indonesia ini banyak perusahaan Prancis dan produk-produk mereka banyak diperjualbelikan. Sehingga, salah satu manisfestasi dari solidaritas umat Islam di Indonesia yang mana, Indonesia ini memiliki warga negara muslim terbesar di dunia, Indonesia harus memboikot produk-produk tersebut.

"Saya kira ini penting dilakukan supaya perilaku seperti ini tidak terjadi lagi. Karena sangat disayangkan kok ada kepala negara yang bertindak seperti ini. Itu tentu sangat tidak pantas. Sebab kalau sudah pada tataran kepala negara yang melakukan, dikhawatirkan akan memicu munculnya rasa saling curiga, saling benci, bahkan bukan hanya antara-umat beragama tapi juga antarnegara," tegasnya

Top